IN-FLORES

Berita

Peningkatan Kapasitas Kader Konservasi Pemula untuk Pengelolaan OECMs di Penyangga TN Komodo

Labuan Bajo, 2–4 Agustus 2024 – Sebanyak puluhan kader konservasi tingkat pemula mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis terkait pengelolaan Other Effective Area-Based Conservation Measures (OECMs) di kawasan penyangga Taman Nasional Komodo. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas generasi muda konservasi dalam mendukung pengelolaan kawasan secara inklusif dan berkelanjutan. Melalui sesi pelatihan intensif, peserta dibekali keterampilan praktis dan pengetahuan mendalam mengenai teknik pemantauan biodiversitas, strategi mitigasi ancaman terhadap ekosistem, serta praktik konservasi berbasis kearifan lokal. Selain pembekalan teknis, kegiatan ini juga membuka ruang dialog dan kolaborasi antara komunitas lokal, pemerintah, serta mitra konservasi. “Pembekalan bagi kader konservasi pemula sangat penting, karena mereka akan menjadi garda terdepan dalam menjaga keseimbangan antara kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat,” ujar salah satu narasumber kegiatan. Melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan partisipasi masyarakat, kegiatan ini diharapkan melahirkan kader konservasi yang siap berperan aktif dalam mendukung pengelolaan kawasan penyangga TN Komodo, sekaligus memperkuat sistem OECMs di tingkat tapak.

Berita

Lokakarya TN Komodo: Masyarakat Dibekali Strategi Atasi Konflik dengan Satwa Liar

Labuan Bajo, 30 Juli – 1 Agustus 2024 – Sebanyak 30 kader konservasi dari desa-desa penyangga sekitar Taman Nasional Komodo mengikuti kegiatan Pembentukan dan Lokakarya Manajemen Konflik Manusia-Satwa Liar. Kegiatan ini digelar untuk memperkuat kapasitas masyarakat lokal dalam menghadapi dinamika interaksi dengan satwa liar, khususnya komodo dan spesies lain yang hidup di kawasan konservasi. Selama tiga hari, peserta mendapatkan pembekalan materi mengenai ekologi komodo, dasar-dasar manajemen konflik manusia-satwa liar, serta praktik langsung di lapangan. Salah satu sesi praktik yang paling menarik adalah simulasi relokasi telur penyu, yang memberikan pemahaman konkret mengenai langkah-langkah penyelamatan satwa dilindungi. Lokakarya ini juga menghadirkan forum diskusi interaktif antara kader konservasi dan pemangku kepentingan, guna merumuskan solusi berbasis komunitas yang aplikatif dalam pengelolaan konflik satwa liar. Dari hasil evaluasi, tercatat peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta, dengan nilai rata-rata post-test meningkat hingga 80% dibandingkan dengan pre-test. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat kapasitas teknis para kader konservasi, tetapi juga mempererat kolaborasi antara masyarakat lokal dan pengelola kawasan Taman Nasional Komodo. Dengan adanya kader yang terlatih, diharapkan konflik manusia-satwa liar dapat diminimalisir, sehingga kelestarian satwa terlindungi sekaligus menjaga kesejahteraan masyarakat sekitar.

Menampilkan 13 dari 14 item