Minggu, 24 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

13 Finalis Putera Indonesia Ikuti Kemah Konservasi di Tesso Nilo

Riau - 25 April 2017, Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) menerima kunjungan Finalis Putera Indonesia 2017 dari perwakilan berbagai propinsi yang bersamaan dengan kegiatan Kemah Konservasi 2017 yang terdiri dari berbagai perwakilan pramuka di kabupaten pelalawan provinsi Riau. Kegiatan kemah konservasi yang digelar ini, selain upaya pengembangan destinasi wisata Riau juga merupakan bagian dari materi wajib para finalis putera Indonesia. Keesokan harinya peserta finalis Putera Indonesia 2017 tiba di kamp Flaying Squad TNTN dan langsung melakukan Jungle Trekking untuk mengenal beberapa flora dan fauna endemik. Kepala Balai Taman Nasional Teso Nilo (TNTN), Supartono menjelaskan “Kegiatan kemah konservasi ini merupakan kegiatan rutin TNTN, berhubung 13 finalis Putera Indonesia materi wajibnya adalah konservasi dan lingkungan hidup, maka ketiga belas finalis putera Indonesia tersebut dikirim ke TNTN untuk belajar mengenai konservasi dan lingkungan hidup.” Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo bersama jajaran menerima seluruh aktivitas agenda kegiatan para Peserta Finalis Putera Indonesia 2017 untuk membangun kembali nilai konservasi di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo serta mengajak para generasi muda agar lebih peduli terhadap alam. Sumber Info: BTN Tesso Nilo
Baca Berita

Diawali Pak Sekjen Diakhiri Bu Menteri Pada Booth Indogreen TN Gunung Gede Pangrango

25 April 2017. Keindahan Gunung Gede dan Pangrango sudah dikenal dan diabadikan sejak abad 18, seperti kesan beberapa orang asing tersebut di atas. Dengan kekayaan alamnya yang menarik seperti kesan Pak Wallace dan Pak Jacobs di atas, saat ini Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dikembangkan sebagai destinasi wisata andalan. Dengan pengembangannya sebagai destinasi wisata alam, TNGGP mempunyai target peningkatan devisa negara dalam bentuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp. 2.040.150.265,-. Jumlah Pengunjung ke TNGGP Lima Tahun Terakhir Tahun Wisnus Wisman Total 2012 84.650 836 85.486 2013 138.865 902 139.767 2014 167.514 850 168.364 2015 154.487 789 155.285 2016 161.154 1.030 162.184 Untuk memenuhi target tersebut, Balai Besar TNGGP berupaya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan taman nasional ini, terutama wisatawan dari mancanegara (Wisman). Target utama adalah wisatawan mancanegara sebanyak 1.000 orang tahun 2017, sebanyak 5.000 orang untuk tahun 2015 - 2019. Untuk itu Balai Besar TNGGP mengikuti pameran 9th Indo Green Environment & Forestry Expo 2017 di Jakarta Covention Centre (JCC) pada tanggal 13 – 16 April 2017. Wisatawan nusantara (Wisnus) tidak menjadi target utama dalam acara pameran kali ini karena jumlah Wisnus sudah berlebih, terutama pada hari-hari libur. Untuk pengunjung lokal lebih ditekankan pada pendidikan konservasi, untuk menginformasikan dan mempromosikan upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, agar mereka tahu dan mau peduli dengan upaya konservasi sumber daya alam sebagai lingkungan hidupnya. Penekanan pada Obyek Wisata Pada pameran kali ini, Balai Besar TNGGP lebih menonjolkan daya tarik wisata, seperti obyek-obyek wisata alam, termasuk obyek yang ada di sekitarnya, fasilitas termasuk paket-paket wisata yang ada. Hal ini untuk menarik wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke taman nasional ini. Tampilan stand dibuat agar yang pertama terlihat adalah keindahan obyek wisata. Pengunjung yang tertarik dengan keindahan alam akan datang berkunjung ke stand, selanjutnya mereka akan mendapat informasi tentang potensi wisata secara lebih rinci, termasuk kondisi umum, fasilitas, paket wisata, cara untuk sampai di lokasi wisata, dan tatacara memasuki kawasan konservasi. Untuk masyarakat lokal terutama para pelajar, diberikan juga informasi tentang potensi jasa lingkungan lainnya, permasalahan umum dan upaya-upaya konservasi yang dilaksanakan di TNGGP, termasuk paket wisata pendidikan seperti, “Sehari di Bukit Nan Asri” (kunjungan harian), “Tiga Malam di Rimba Raya” dan “Lima Hari Menguak Misteri” (kemah konservasi), “Jejak Sang Ilmuan” (pengamatan tumbuhan dan satwa liar), dan paket lainnya. Informasi disajikan dalam bentuk gambar, teks/tulisan, interpretasi lisan, peta, buku, leaflet, stiker, dan lain-lain. Sebagai tambahan dilengkapi dengan berbagai asesoris, baik berupa tumbuhan, gambar maupun supenir. Sekitar 80 % Pelajar/ Mahasiswa Meskipun sasaran yang diharapkan adalah wisatawan asing, namun pameran kali ini tidak terlalu banyak dikunjungi tamu mancanegara. Stand Balai Besar TNGGP hanya didatangi tiga orang “bule” dari negeri Belanda. Namun demikian tujuh orang personil biro perjalanan yang berlainan sempat berkunjung dan tertarik untuk memasarkan destinasi wisata ini. Kebanyakan pengunjung ke stand Balai Besar TNGGP adalah para pelajar dan mahasiswa, hampir 80 % dari jumlah pengunjung yang datang. Pada umumnya mereka lebih tertarik karena kegiatan pendakian, namun setelah mendapat penjelasan tentang paket wisata pendidikan, para pelajar yang umumnya penduduk Kota Jakarta (tidak terbiasa berjalan kaki) menjadi lebih tertarik pada paket wisata pendidikan dari pada pendakian. Kelompok orang penting (VIP) yang sempat berkunjung ke stand Balai Besar TNGGP antara lain Sekjen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Bapak Bambang Hendroyono, yang sempat berkunjung pada hari pertama pameran. Pada hari terakhir stand kita mendapat kehormatan dengan kunjungan Menteri LHK, Ibu Siti Nurbaya. Dengan berbagai kegiatan, seperti pameran ini, mudah-mudahan target kunjungan wisatawan mancanegara serta perolehan PNBP dapat tercapai. Demikian pula dengan upaya penyampaian pesan-pesan konservasi, bisa membuat masyarakat tahu, sadar dan peduli dengan upaya konservasi sumber daya alam. Semoga! Sumber Info : Ir. Agus Mulyana – Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Peringati Hari Bumi, TN. Gunung Palung Menanam Pohon Dengan Juara Dunia Tinju

Ketapang - 25 April 2017, Dalam rangka meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap bumi, Balai Taman Nasional Gunung Palung mengadakan peringatan hari bumi bekerja sama dengan IJ-REDD+ Project. Hari Bumi diperingati setiap tanggal 22 April. Peringatan hari Bumi di Taman Nasional Gunung Palung dilaksanakan selama 3 hari dari tanggal 22-24 April 2017 diawali dengan kegiatan Bina Cinta Alam yang diikuti oleh kelompok sispala dari 9 SMA/SMK di Kabupaten Kayong Utara, dan Kelompk Pecinta Alam lain yaitu Relawan Rebong, ASRI Teen, dan Explore Kayong Ktara 60. Kegiatan dilakukan di Pantai Pasir Mayang, SPTN Wilayah I Sukadana. Para peserta mendapatkan berbagai materi tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Pengamatan Fauna, Navigasi, P3k dan Mountenering. Pemateri berasal dari para profesional dibidangnya. Puncak peringatan hari bumi dilakukan dengan kegiatan menanam pohon di sekitar lokasi kegiatan. Bibit yang ditanam sebanyak 200 pohon terdiri dari tanaman asli seperti belian/ulin (Eusideroxylon zwageri) dan tanaman lain yang berguna seperti durian (Durio zibethinus).Pada kegiatan penanaman pohon hadir pula Daud Yordan yang merupaka juara dunia tinju kelas ringan WBA. Daud Jordan berpesan agar menjaga hutan kita untuk bumi kita terutama menjaga Taman Nasional Gunung Palung. Penanaman pohon diikuti 150 peserta yang terdiri dari peserta Bina Cinta Alam, IJ-REDD Project, Yayasan ASRI, Yayasan Palung, Tokoh Masyarakat, Perangkat Desa, Kelompok Binaan Taman Nasional Gunung Palung, Relawan-relawan, Daud Boxing Camp dan Staf Taman Nasional Gunung Palung. Selain kegiatan penanaman juga dilakukan penyerahan bantuan untuk peningkatan Usaha Ekonomi masyarakat sekitar kawasan kepada Kelompok Masyarakat Usaha Karya Bersama dan Usaha Baru binaan Taman Nasional Gunung Palung lewat program CSR dari perusahaan air minum kemasan yang menggunakan sumber air dari kawasan Taman Nasional. Sumber Info: BTN Gunung Palung
Baca Berita

Pendidikan Konservasi TN Gunung Merapi

25 April 2017. Pendidikan konservasi tahun 2017 ini adalah siswa Sekolah Dasar yang ada disekitar kawasan TN Gunng Merapi (TNGM), yang dilaksanakan di 4 (empat) Sekolah Dasar yaitu SD Neg 2 Sidorejo Kec. Kemalang Kab. Klaten pada tanggal 18 April 2017, SD Neg Ngargomulyo Kec. Dukun Kab. Magelang pada tanggal 19 April 2017, SD Neg 2 Lencoh Kec. Selo Kab. Boyolali tanggal 19 April 2017 dan MI Al Hikmah Kec. Cepogo Kab. Boyolali tanggal 18 April 2017. Dengan harapan dapat melahirkan generasi peduli konservasi Merapi, karena itu para pelajar dikenalkan kawasan TNGM beserta tumbuhan dan satwa liar di dalamnya. Para siswa tersebut tinggal dekat di sekitar kawasan jadi harus punya wawasan dan pengetahuan bagaimana melestarikan dan mengelola alam. Mereka boleh beraktivitas di hutan, namun harus tetap memperhatikan keberlangsungan alam. Metode yang digunakan tergantung kondisi sekolah masing-masing. Kali ini karena musim hujan sehingga dilakukan dalam kelas dengan pemutaran film TNGM, permainan indoor maupun outdoor serta diskusi. Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan hampir semua siswa maupun guru senang dengan adanya kegiatan pendidikan konservasi ini karena merupakan ilmu baru bagi mereka. Pada kegiatan ini juga siswa dan gurunya diajak menanam pohon di lingkungan sekolah. Harapannya kegiatan ini kontinyu dilaksanakan kata Sukani, S.Pd Kepala sekolah SDN 2 Sidorejo Kemalang, juga agar dilakukan ditingkat guru-guru agar bisa membagi informasi kepada siswanya paparnya. Harapannya semoga pendidikan konservasi alam diselipkan dalam kurikulum di sekolah. Namun agar program ini bisa berjalan lancar, Balai TNGM diminta memberikan workshop kepada para guru/pengajar. Usia Pendidikan Dasar menjadi sangat penting untuk mengenalkan segala hal baik, termasuk tentang konservasi. Hal inilah yang menjadi landasan dasar perlunya Pendidikan Konservasi di sekolah – sekolah yang berada di daerah penyangga Taman Nasional Gunung Merapi. Salah satu tujuan program konservasi adalah untuk melestarikan berbagai jenis tumbuhan, hewan serta faktor abiotik penunjangnya. Secara miniatur, program konservasi ini menjadi hal yang utama dilaksanakan di sekitar Taman Nasional Gunung Merapi. Nilai konservasi inilah yang perlu dikenalkan dan diimplementasikan ke siswa-siswa usia Pendidikan Dasar yang menjadi usia penting pengenalan hal-hal baik yang dipelajari oleh para siswa tersebut. Pada usia ini, ilmu baru lebih mudah dikenalkan, sehingga diharapkan muatan-muatan konservasi akan lebih melekat di benak mereka dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan konservasi ini dimaksudkan sebagai salah satu metode bina cinta alam dan pengenalan tentang Taman Nasional Gunung Merapi ke masyarakat sekitar, terutama ke siswa sekolah usia Pendidikan Dasar, dalam hal ini siswa Sekolah Dasar. Sedangkan tujuannnya adalah : Memberikan dasar-dasar pendidikan konservasi ke siswa usia Sekolah Dasar, mengenalkan jenis tumbuhan dan jenis satwa liar di dalam kawasan TNGM serta mengenalkan kegiatan-kegiatan konservasi yang dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Sumber Info : Balai TN Gunung Merapi
Baca Berita

Diskusi Suaka Margasatwa Gunung Sawal Ciamis BBKSDA Jabar

Ciamis, 25 April 2017. Pada hari Selasa, tanggal 25 April 2017 telah dilaksanakan Kegiatan Diskusi Hasil Studi Populasi dan Habitat Macan Tutul Jawa serta Sosial Ekonomi Masyarakat Sekitar Suaka Margasatwa Gunung Sawal Ciamis. Kegiatan yang diinisiasi oleh Forum Konservasi Macan Tutul Jawa (FORMATA) dan Taman Safari Indonesia ini dilaksanakan di Aula Gedung Kesenian Kebun Binatang Bandung. Hadir pada kesempatan tersebut Ir. Adi Susmianto, M.Sc. (Pembina FORMATA), Ir. Sustyo Iriyono, M.Si. (Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat), dan Tony Sumampau (Direktur TSI). Hadir pula pada acara tersebut Perwakilan : Kebun Binatang Bandung, Conservation International Indonesia, Pemda Ciamis, Perum Perhutani KPH Ciamis, Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi SDA, Kader Konservasi Gunung Sawal, Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa Ciamis, Balai Besar KSDA Jawa Barat, serta awak media. Kegiatan ini berisi pemaparan dan diskusi hasil studi yang dilaksanakan oleh FORMATA sebagai salah satu bentuk kegiatan guna mendukung pengelolaan kawasan konservasi, khususnya terkait pengelolaan jenis Macan Tutul Jawa dan habitatnya di SM Gunung Sawal. Studi yang telah dilaksanakan mulai tanggal 21 Oktober 2016 - 02 Februari 2017 berhasil mengungkap keberadaan 5 ekor Macan Tutul Jawa. Di samping itu, juga berhasil diungkap masih rendahnya persepsi masyarakat tentang pentingnya pelestarian Macan Tutul Jawa. Ke depan, perlu terus dilakukan monitoring populasi Macan Tutul Jawa secara berkala sehingga dapat diketahui dinamika populasi Macan Tutul Jawa di SM Gunung Sawal yang dapat dijadikan dasar dalam penentuan skema mitigasi konflik Macan Tutul Jawa dan masyarakat secara tepat. Selain itu, upaya penyadartahuan masyarakat tentang pentingnya pelestarian Macan Tutul Jawa perlu terus ditingkatkan. Sebagai tambahan, ajang publikasi potensi SM Gunung Sawal dengan thema "Festival Gunung Sawal" bisa menjadi salah satu alternatif sinkronisasi kegiatan yang juga bisa memberikan manfaat bagi pemerintah daerah dan masyarakat sekitar kawasan, dalam konteks pengelolaan Kawasan Konservasi. Sumber Info : Humas Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Penampakan Sarang Orangutan di Kawasan BKSDA Aceh

Singkil, 25 April 2017. Orangutan Sumatra (Pongo abelli) terlihat sedang membuat sarang di dalam kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil. Kepala BKSDA Aceh melalui Kepala Seksi Wilayah II Subulussalam Hadi Sofyan mengatakan bahwa orangutan tersebut ditemukan oleh Tim Smart Patrol Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) Rawa Singkil di Desa Rakit Kemukiman Buloh Seuma Kecamatan Trumon Aceh Selatan dan di Kuala Baru Kecamatan Singkil. Keberadaan mamalia ini dilindungi Undang Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta digolongkan sebagai Critically Endangered oleh IUCN ( International Union for Conservation of Nature and Natural Resources). Sumber Info : Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Rehabilitasi Terumbu Karang dengan Biorock oleh TN Kepulauan Seribu

Kepulauan Seribu, Jakarta, 25 April 2017. Balai TN Kepulauan Seribu menggunakan teknologi “Biorock” untuk merehabilitasi terumbu karang. Dua unit instalasi seni bawah air untuk terumbu karang (ARTificial Reef) berbentuk piramida karya seniman nasional, Teguh Ostenrik, dengan panjang 6 meter, lebar 6 meter dan tinggi 4 meter ditenggelamkan ke laut sebagai habitat buatan. Penggunaan instalasi seni bawah air yang dipadukan dengan teknologi biorock adalah salah satu bentuk kombinasi seni, teknologi dan konservasi terumbu karang. Kepala Balai TN Kepulauan Seribu, Ir Evi Haerlina secara simbolis membuka kegiatan penenggelaman habitat buatan untuk rehabilitasi terumbu karang dengan pemotongan tumpeng pada tanggal 25 April 2017 di perairan Pulau Sepa Wilayah SPTN II Pulau Harapan. Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak antara lain Yayasan Terumbu Rupa, Biorock Indonesia, masyarakat selam indonesia, Resort Wisata Pulau Sepa dan kelompok masyarakat. Biorock adalah suatu proses teknologi pelapisan mineral yang berlangsung di dalam laut. Teknologi ini bekerja menggunakan proses elektrolisis air laut yaitu dengan meletakan dua elektroda di dasar laut dan dialiri dengan listrik searah bertegangan rendah yang aman sehingga memungkinkan mineral pada air laut mengkristal di atas elektroda. Aliran listrik menggunakan sumber tenaga surya (solar sell) yang merupakan energi terbarukan dan ramah lingkungan. Teknologi “Biorock” yang dikombinasikan dengan ARTificial Reef sebagai habitat buatan ini baru pertama kali diaplikasikan di Taman Nasional Kepulauan Seribu. Selama ini, rehabilitasi terumbu karang di TN Kepulauan Seribu dilakukan dengan metode transplantasi karang. Diharapakan dengan teknologi biorock pertumbuhan terumbu karang lebih cepat dibandingkan dengan metode lainnya. Selain itu kombinasi dengan karya seni bawah air sebagai habitat buatan dengan aneka ragam bentuk dapat menjadi atraksi wisata bawah air yang menarik.@jtr video Sumber Info : Balai TN Kepulauan Seribu
Baca Berita

Taman Nasional Kepulauan Seribu Beri Penghargaan Resort Wisata

Kepulauan Seribu, Jakarta, 25 April 2017. Balai TN Kepulauan Seribu memberikan penghargaan kepada beberapa resort wisata disekitar kawasan TN Kepulauan Seribu yang telah membantu dalam pencapaian target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Kepala Balai TN Kepulauan Seribu, Ir. Evi Haerlina, secara simbolis menyerahkan piagam penghargaan kepada Resort Wisata Pulau Sepa yang diwakili oleh salah satu direkturnya, Bapak Erik Saputra. Resort wisata lainnya yang juga diberikan penghargaan antara lain resort wisata Pulau Pantara, Pulau Putri, dan Pulau Macan. Penghargaan yang secara resmi ditandatangani oleh Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE tersebut diberikan sebagai apresiasi atas kerjasama resort wisata dalam pelaksanaan pungutan PNBP. Resort wisata berada di daratan pulau atau di luar kawasan TN Kepulauan Seribu namun aktivitas pengunjungnya sebagian besar dilakukan di kawasan taman nasional sehingga pungutan PNBP tetap harus diberlakukan. Banyaknya pintu masuk ke TN Kepulauan Seribu menyebabkan sulitnya pelaksanaan pungutan PNBP sehingga peran resort wisata sangat dibutuhkan dalam membantu penerapan PNBP. Ke depan, peran serta resort wisata dalam pungutan PNBP diminta untuk tetap dilakukan agar PNBP di kawasan TN Kepulauan Seribu dapat terus meningkat.@jtr Sumber: Balai TN Kepulauan Seribu
Baca Berita

Partisipasi TN Wakatobi pada Halo Sultra

Kendari, 25 April 2017. Taman Nasional Wakatobi (TNW) mengikuti pameran Halo Sultra dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Sulawesi Tenggara yang ke-53. Pameran direncanakan dilaksanakan selama 5 hari mulai tanggal 23 sd 27 April 2017, namun akan diperpanjang sampai tanggal 29 April 2017. Pada hari pertama, Bapak kepala Balai TNW hadir mengikuti kegiatan pameran dan melihat antusiasme masyarakat untuk mengikuti pameran sangat tinggi ditandai dengan banyaknya pengunjung yang masuk ke stand TNW dari semua kalangan baik masyarakat biasa, para pelajar, mahasiswa, wisatawan asing serta akademisi. Aktifitas pengunjung dalam Stand pun beragam, mulai yang tertarik untuk selfie karena panorama alam yang indah, menggali informasi dari pengelola TNW terkait pengelolaan, aksesibilitas dan potensi wisata. Pengunjung juga menggali informasi terkait dive operator yang disertai dengan paket wisata dan jasa pemanduan, serta tatacara masuk kawasan dalam rangka ilmu pengetahuan dan pendidikan mahasiswa seperti penelitian dan kegiatan magang. Semoga dengan dilakukan promosi melalui pameran, TNW semakin dikenal, segala peraturan yang berlaku dipahami dan dilaksanakan oleh pengunjung serta banyak yang datang untuk ekowisata, penelitian dll. Sehingga peningkatan pendapatan dan taraf hidup masyarakat, sumberdaya alam terjaga dan kegiatan ekowisata ramah lingkungan akan terwujud. Sumber Info : Balai TN Wakatobi
Baca Berita

Aksi Tim BKSDA Jambi Mengagalkan Transaksi Kulit Harimau Sumatera

Bungo, 24 April 2017. Tim Pelestarian Harimau Sumatera Taman Nasional Kerinci Seblat (PHS-TNKS) pada tanggal 22 April 2017 mendapatkan informasi bahwa akan ada transaksi perdagangan kulit harimau sumatera di sekitar perbatasan Bungo - Dhamasraya. Dari informasi tersebut, pelaku bernama Samsir yang asal dari Solok dan transaksi akan di lakukan pada tanggal 23 April 2017. Tim Pelestarian Harimau Sumatera Taman Nasional Kerinci Seblat (PHS-TNKS) bersama Tim SPTN 2 Merangin berkoordinasi dengan pihak Polres Bungo untuk melakukan penyelidikan bersama di sekitar target lokasi transaksi Kulit Harimau Sumatera. Tim Operasi Tangkap Tangan Polres Bungo mencurigai satu mobil yang berhenti di SPBU Jujuan, kemudian tim melakukan penyergapan dan di temukan dalam mobil tersebut tas berisi kulit Harimau Sumatera dan 3 (tiga) orang tersangka. Dua orang tersangka berhasil di tangkap bernama Samsir dan Aris, sedangkan satu lagi berhasil melarikan diri. Saat ini tersangka dan barang bukti dalam Proses Lidik di Polres Bungo. Sumber Info : Balai Besar TN Kerinci Seblat
Baca Berita

Eksekusi Lahan Cengkeh oleh BBKSDA Sulsel

Bone, 24 April 2017. Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan telah berkoordinasi dengan para pihak selama 6 (enam) bulan dan berhasil mengeksekusi sebagian areal perambahan yang ditanami cengkeh tanpa perlawanan. Sebanyak 14 kepala keluarga sudah keluar dengan sukarela. Kegiatan ini sebagai upaya tindaklanjut keterlajuran penggunaan kawasan konservasi di Taman Wisata Alam (TWA) Cane Kabupaten Bone. Upaya ini akan terus bertahap sesuai kondisi sosial ekonomi dan budaya di kawasan Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan. Saat ini TWA Malino dalam proses penyidikan lebih lanjut oleh Balai Gakkum Sulawesi. Sumber Info : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Korban Pendaki Gunung Rinjani Sudah Dapat Dievakuasi

Mataram, 24 April 2017, Seorang pendaki ditemukan tewas mengapung 23/4 di area kolam pemandian air panas, Danau Segara Anakan. Taufik (23), warga Bantul ini sedang dievakuasi menuju kaki gunung. Informasi yang disampaikan pihak BTN Gunung Rinjani, berdasarkan keterangan dari rekan korban, sebelumnya Jumat (21/4) korban melakukan registrasi bersama 2 orang rekannya. Dengan program pendakian 3 hari 2 malam. Kemudian pada minggu (23/4), sekitar pukul 07.30 wita korban bersama rekannya an. Muhamad Ali S. Pergi mangambil air di mata air di sekitar air panas, setelah mengambil air korban dan temanya mampir dengan rencana berfoto, kemudian korban mengajak temannya mandi namu temanya menyarankan untuk mandi di lokasi air yang berada di atas karena di anggap ramai, kemudian korban terlihat oleh ALI membuka baju dan mengajak untuk mandi di TKP, ALI berniat untuk mandi juga tetapi ALI menaruh air dulu di atas bukit (jarak TKP dgn tempat menaruh air sekitar 20 meter) setelah menaruh air ALI langsung turun ke TKP namun ALI tidak melihat korban berada di tempatnya. Setelah itu ALI mencari bantuan kearah base camp dan ketumu dengan An. JALIL (pendaki), kemudian ALI beserta pengunjung lain langsung menuju TKP. Setelah 3 jam ALI dan pengunjung lain tidak menemukan korban hanya banyangan seperti warna kulit manusia dan setelah ditunggu sampai pukul 20.00 wita korban tidak ditemukan. Minggu 23/4/2017 pukul 11.30 wita. Tim BTN Gunung Rinjani mendapatkan informasi dari porter dan guide bahwa ada korban yang meninggal di air panas, setelah mendapat informasi tersebut Tim bersama Edelwei Medical Help Center (EMHC) langsung mempersiapkan tenaga evakuasi Sumber Info: BTN Gunung Rinjani
Baca Berita

Rencana Pemulihan Ekosistem di TN Bogani Nani Wartabone

Sebagai salah satu kawasan konservasi teresterial yang cukup luas di Pulau Sulawesi, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) dengan luasan 282.008,757 ha memiliki peran penting dalam mendukung terselenggaranya proses-proses ekologis yang sangat vital bagi kelangsungan hidup manusia dan mahkluk hidup lainnya. Namun seiring dinamika sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan, TNBNW juga mendapatkan tekanan dan kerusakan. Tekanan tersebut sangat kompleks dengan melibatkan berbagai pihak yang memiliki kepentingan terhadap kawasan ini oleh karena itu sangat diperlukan upaya-upaya tertentu yang harus dilakukan oleh balai TNBNW untuk dapat menekan kerusakan dalam kawasan hutan serta memulihkan ekosistemnya pada kondisi ideal guna menjamin keberlanjutan tempat hidup yang dapat menjamin kehidupan mahluk hidup lainnya yang ada di dalamnya. Secara nasional luas hutan dan lahan yang rusak saat ini 101.73 juta ha, 59.62 juta ha berada dalam kawasan hutan (Badan Planologi, Dephut, 2013). Meluasnya degradasi lahan disebabkan oleh beberapa hal antara lain : (a) Tekanan penduduk, (b) Perluasan areal pertanian yang tidak sesuai, (c) Perladangan berpindah, (d) Padang penggembalaan yang berlebihan, (e) Pengelolaan hutan yang tidak baik dan (f) Pembakaran yang tidak terkendali. Fujisaka dan Carrity (1989) mengemukakan bahwa masalah utama yang dihadapi di lahan terbuka antara lain adalah lahan mudah tererosi, tanah bereaksi masam dan miskin unsur hara.Untuk kawasan TNBNW, berdasarkan data inventarisasi terdapat 2.043 ha lahan yang terdegradasi dan perlu untuk dipulihkan kondisi ekosistemnya. Dalam upaya merealisasikan program pemulihan ekosistem dalam kawasan TNBNW maka diperlukan kajian secara komperhensif terkait berbagai informasi yang akurat tentang intentsitas kerusakan yang terjadi, kondisi lahan (biofisik dan geofisik) serta kondisi masyarakat yang ada disekitarnya. Penyediaan data dan informasi tersebut sangat diperlukan terutama dalam menunjang formulasi strategi yang efektif dan efisien, sehingga diharapkan diperoleh acuan dalam teknis pelaksanaan dan pengalokasian sumberdaya pelaksana (anggaran dan tenaga pelaksana) secara proporsional.Secara kasat mata, kondisi ekosistem yang perlu untuk dipulihkan pada kawasan TNBNW tersebar secara sporadis (tidak merata) pada hampir semua wilayah.Mulai dari SPTN I Suwawa, SPTN II Doloduo dan SPTN III Maelang. Masing-masing wilayah memiliki karakteristik biofisik yang cukup beragam dengan tipikal kondisi sosial masyarakat yang sangat dinamis sesuai dengan kultur budayanya Maksud dari rancangan ini adalah untuk memperoleh kejelasan tentang tahapan-tahapan kegiatan yang akan dilaksanakan guna tersusunnya rencana pemulihan ekosistem pada kawasan Hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Tujuan dari pembuatan rancangan ini adalah : Sumber Artikel: BTN Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Operasi Bebas Sampah dan Vandalisme TN Bantimurung Bulusaraung

Pangkep, 23 April 2017. Bertepatan hari bumi yang jatuh pada tanggal 22 April, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) menyelenggarakan kegiatan operasi bebas sampah dan vandalisme di kawasan pegunungan Bulusaraung, mulai Sabtu (22/4/2017) hingga Minggu (23/4/2017). Karenanya selama pelaksanaan kegiatan ini, aktivitas pendakian di Gunung Bulusaraung ditutup sementara untuk umum. Penutupan sementara ini diumumkan melalui website Balai TN Babul beberapa hari sebelumnya. Kegiatan operasi bebas sampah dan vandalisme merupakan agenda tahunan di kawasan wisata pendakian Gunung Bulusaraung. "Sebagai salah satu dari tujuh wisata andalan TN Babul, pengunjung Gunung Bulusaraung kian bertambah. Akibatnya, volume sampah dan vandalisme juga meningkat sehingga dikhawatirkan dapat menyebabkan kerusakan alam dan ekosistem," ujar Abdul Azis Bakry, Kepala Sub Bagian Tata Usaha TN Babul. Kegiatan tersebut turut melibatkan 150 peserta, antara lain Kelompok Pecinta Alam (KPA) lingkup Kabupaten Pangkep dan Maros, SMK Kehutanan Makassar, SMK Negeri 1 Bungoro, Mapala UMI Makassar. Selanjutnya, Kelompok Pengelola Ekowisata Ewako, Manggala Agni Balai TN Babul, staf Balai TN Babul, Sekolah lingkup Kabupaten Pangkep-Maros-Makassar, Masyarakat Mitra Polhut (MMP) lingkup SPTN Wilayah I Baloci Balai TN Babul, P3E Suma, dan sejumlah pendaki. Dalam kegiatan ini pula, ditandatangani deklarasi “Stop Vandalisme” oleh sejumlah stakeholder, antara lain Camat Balocci, Burhan M, Kepala Desa Tompobulu Syamsuddin, Kepala SPTN Wilayah I Balocci Balai TN Babul, Iqbal Abadi Rasjid, dan perwakilan Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi-Maluku Ellyyana Said, serta perwakilian KPA. Selanjutnya dilakukan sosialisasi Standard Operating Procedure Pelayanan Pengunjung dan Tata Tertib Pendakian Gunung Bulusaraung kepada para peserta pendaki untuk meningkatkan kesadaran dan keikutsertaan pendaki dalam menjaga Gunung Bulusaruang agar tetap bersih. Selain operasi bebas sampah dan vandalisme, juga dilakukan aksi penanaman di sepanjang jalur pendakian Bulusaraung. Aksi penanaman dimulai dari Pos 3 Gunung Bulusaruang hingga Pos 8. Tak kurang dari 180 pohon jenis Eugenia cumini (coppeng, bahas lokal) ditanam pada aksi ini. “Penanaman ini bertujuan untuk memulihkan ekosistem yang di Kawasan Wisata Pendakian Gunung Bulusaraung” terang Iqbal Abadi Rasjid. Selanjutnya, seluruh peserta melanjutkan perjalanan menuju pucak Gunung Bulusaraung (Pos 9) untuk melakukan aksi stop vandalisme dengan menandatangani spanduk deklarasi gerakan aksi lingkungan stop vandalisme dan bebas sampah. Kegiatan ini diakhiri dengan membawa turun dan memungut sampah di sepanjang jalur pendakian yang kemudian dikumpulkan di kantor desa. Sumber Info : Erista Murpratiwi - Penyuluh Kehutanan Balai TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Kembali Illegal trading Satwa Liar di Wilayah Banten digagalkan

Pandeglang, 22 April 2017. Tantangan bagi penggiat konservasi (BBKSDA, NGO dan masyarakat yang peduli lingkungan) bahwa untuk menyadarkan semua orang terhadap perilaku yang salah adalah hal yang sangat sulit. Terbukti dengan tertangkapnya pelaku perdagangan illegal 3 ekor Penyu Hijau (Chelonia mydas). Ketiga satwa tersebut berhasil diamankan Kepolisian Sektor Cikeusik Pandeglang dari tangan Darna sebagai pembeli yang berdomisili di Desa Cibadak Kecamatan Cimanggu Kabupaten Pandeglang pada taanggal 22 April 2017. Dari penuturaannya satwa tersebut dibeli dari seorang bernama Yanto yang tinggal di Kampung Binuangeun Kecamatan Wanasalam Kabupaten Lebak, seperti telah diberitakan di media sebelumnya. Menindaklanjuti penangkapan tersebut, petugas Polisi Kehutanan Balai Besar KSDA Jawa Barat Seksi Konservasi Wilayah I Serang segera berkoordinasi dan turut serta mengamankan ketiga barang bukti tersebut bersama-sama dengan anggota Kepolisian Sektor Cikeusik untuk dititipkan di LOKA Kelautan yang berada di Kecamatan Carita setelah sebelumnya di titipkan di Taman Nasional Ujung Kulon. Kedua pelaku illegal trading saat ini telah ditahan untuk menjalani proses hukum di Kepolisian Resort Pandeglang Banten. Sebagai pemegang amanat dari Undang - Undang No.5 Tahun 1990 tentang KSDAE, maka petugas BBKSDA Jawa Barat akan dipanggil untuk menjadi saksi ahli dalam penyidikannya, selain itu Balai Besar KSDA Jawa Barat akan akan memonitor kasus ini sampai dengan memperoleh putusan tetap dari pengadilan. (dee) Sumber Info : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Aksi Bersih Sungai TN Kutai Rayakan Hari Kartini Dan Hari Bumi

Sangatta, 22 April 2017. Hari Kartini yang diperingati pada 21 April merupakan hari istimewa khususnya bagi kaum wanita Indonesia karena sosok R.A Kartini sebagai pejuang emansipasi wanita telah memberikan inspirasi kepada para wanita Indonesia. Berbagai cara yang dilakukan oleh para wanita untuk memperingati Hari Kartini dan Balai Taman Nasional Kutai merayakan Hari Kartini dengan bersih-bersih Objek Wisata Alam Sangkima Jungle Park Taman Nasional Kutai. Kegiatan ini dilaksanakan sekaligus memperingati Hari Bumi Internasional. Kegiatan bersih-bersih Objek Wisata Alam Sangkima Jungle Park difokuskan pada pembersihan jalur Sungai Lote. Staf Balai Taman Nasional Kutai dan Manggala Agni Daops Sangkima baik laki-laki maupun perempuan bahu membahu untuk membersihkan sampah di sepanjang aliran Sungai Lote. Kegiatan bersih sungai ini dilaksanakan selain agar aliran Sungai Lote menjadi lancar dan bersih, juga untuk menambah atraksi wisata di Objek Wisata Alam Sangkima Jungle Park. Aliran Sungai Lote ini direncanakan akan digunakan untuk berkano maupun river tubing. Semoga dengan sungai yang bersih dan adanya penambahan atraksi wisata ini, wisatawan yang berkunjung ke Taman Nasional Kutai khususnya Sangkima Jungle Park dapat meningkat.#BTNK Sumber Info : Balai TN Kutai

Menampilkan 10.673–10.688 dari 11.141 publikasi